Sepakbola Itu Biasa Saja

Selasa, 01 Agustus 2017

“Ketika rindu menggebu-gebu, kita menunggu.
Jatuh cinta itu biasa saja.

Saat cemburu kian membelenggu, cepat berlalu

Jatuh cinta itu biasa saja.”

(Efek Rumah Kaca – Jatuh Cinta itu Biasa Saja)

Saya bergumam tiba-tiba lirik lagu jatuh cinta itu biasa saja dari Efek Rumah Kaca dalam perjalanan pulang dari kantor, setelah semua penat dan pening tentang sepakbola sejak kepulangan dari lawatan Banyumas. Dengan tiba-tiba dan bertubi-tubi PSS Sleman seperti mendapat pukulan telak, seperti pertandingan yang tidak segera tiba peluit panjangnya untuk berakhir. Larangan kepolisian untuk suporter PSS Sleman tandang ke Jawa Tengah, lalu putusan dari federasi 4 laga tanpa penonton, hingga isu pengaturan hasil kompetisi liga 2 yang tidak melibatkan PSS Sleman sebagai subjek pemenang. Tentu kaget, bingung, panik menanggapi hal-hal di luar kuasa kita sebagai suporter yang tempatnya di tribun, saya mengalami hal itu dan teman-teman pasti mengalami hal serupa.

“Ketika rindu menggebu-gebu, kita menunggu. Jatuh cinta itu biasa saja.”

Apa yang terjadi setelah mengantar PSS Sleman berangkat laga tandang sampai di perbatasan? Tentu saja rindu. Melihat tim berlalu ke utara dan kenyataan bahwa suporter dilarang datang tentu saja mengundang rindu tiba-tiba dan pasti semakin menggebu mendekati hari peluit panjang akan ditiup besok. Di titik ini kita semua diajak menyadari bahwa ternyata ada batasan yang tidak bisa kita lalui hari ini bahwa kita tidak bisa berada di sana menyaksikan PSS Sleman berlaga. Bermodal nekat pun tidak cukup karena melanggar putusan hukuman ini bisa berakibat hukuman-hukuman baru yang selalu siap mengancam tim kebanggaan kita semua, mengingat federasi sedang gila. Jangankan memberi dukungan, justru kita bisa berbalik menjadi benalu untuk tim: ikut tumbuh di dalamnya tapi perlahan menggerogoti. Kita tidak hidup sebagai suporter untuk hal macam itu. Segala kekhawatiran belum bisa terjawab tentang akankah PSS bisa berjuang sendiri, bagaimana jika dicurangi tanpa saksi, bisakah melawan tekanan di kandang lawan; karena tradisi awaydays selama ini adalah untuk menjawab kekhawatiran itu. Tapi kali ini kita dipaksa menjadi biasa saja.

Pada satu kesempatan saya bertemu bapak Rumadi dan bertanya “Apakah tim tetap akan bermental sama jika suporter tidak berangkat, pak?” Beliau dengan tenang dan tegas menjawab, “Walaupun ada hukuman pertandingan tanpa suporter, tim tetap pada target untuk mencuri poin di Pekalongan.” Jawaban ini melegakan saya. Jawaban ini pula yang akhirnya membawa kita berangkat mengantar tim berbondong-bondong Senin pagi kemarin. Jawaban ini pula yang membuka sudut pandang baru: kita sudah berjuang sejauh ini, selalu ada untuk PSS Sleman, tapi kali ini mari kita percayakan sepenuhnya pada punggawa.

“Saat cemburu kian membelenggu, cepat berlalu. Jatuh cinta itu biasa saja.”

Lini masa hangat dengan bahasan pengaturan pemenang liga 2 Indonesia, menambah segala macam kekhawatiran kita sebagai suporter tentang nasib PSS Sleman di sisa liga. Seakan segala macam hukuman yang dikenakan untuk Super Elja seperti skenario yang semakin nyata membuktikan kabar burung itu. Saya tidak kaget. Isu mafia selalu saja ada di federasi, kita tidak berdiri dan bernyanyi untuk kalut oleh bahasan remeh-temeh macam ini. Kita adalah orang-orang keras kepala yang akan tetap berdiri dan bernyanyi untuk tim, untuk tetap percaya suatu saat kita akan rayakan. Mafia hanya dalang dan kita adalah wayang yang tidak akan tunduk pada tangan-tangan mereka, yang akan tetap melawan dalam bayang-bayang yang mereka sendiri tidak akan lihat. Tenang, percaya, kita tetap akan rayakan.

Akhir, segala macam kekalutan ini agaknya baik disikapi dengan biasa saja. Menahan diri dulu untuk tidak melanggar hukuman demi dukungan yang lebih besar begitu sanksi usai. Anggap saja kita berhutang 4 laga untuk dibayar di laga berikutnya dengan dukungan yang lebih meriah, lebih megah, dan lebih lantang. Tarik nafas sebelum memutuskan sesuatu, supaya ego tidak menginjak nalar kita, supaya kita tidak menjadi benalu untuk PSS Sleman, supaya kita tetap bisa memberi, semakin mandiri dan semakin menghidupi. Pun, isu juara liga 2 kita sikapi biasa saja. Melawan dengan hati-hati dan diam, tidak perlu terburu-buru karena kita adalah PSS Sleman. Tidak semudah itu dikendalikan untuk kalah. Ingat, kepanikan kita adalah senyum para mafia. Tabik :)

 

Sepakbola itu Biasa Saja

Tonggos Darurat 2017

Related Posts

Tetap Yakin Dan Percaya Walau Kita Tak Bersamamu

Rabu, 13 September 2017

Acara nonton bareng ini sebagai alternatif dukungan karena travel warning ke “area” Jawa Tengah dari Polda Jawa Tengah dan sanksi dari komdis PSSI yang masih berlaku.

Launching Album Kompilasi #3

Jum'at, 08 September 2017

Setelah sukses dengan album kompilasi untuk PSS 1 dan 2, Elja Radio bekerjasama dengan Curva Sud Shop kembali akan merilis album kompilasi Untuk PSS #3.