Paseduluran Ora Keno Ditinggalke!

Sabtu, 23 September 2017
Setelah khatam menjalani ujian pendewasaan bagi seluruh pendukung Elang Jawa, yaitu dengan menahan ego untuk tidak mendukung kebanggaan di laga tandang Ciamis dan Cilacap, kini kita dihadapkan kembali dengan satu pilihan sulit. Pertaruhan langkah PSS selanjutnya menuju ke singgasana juara yang menjadi mimpi kita semua kembali menemui jalan terjal jika kita tetap memaksakan diri untuk mengawal PSS melawat di rumah saudara tua PERSIS Solo. Harapan mendendangkan Satu Jiwa dan Sampai Kau Bisa secara bergantian di Stadion Manahan belum bisa terealisasi di leg pertama 16 besar Liga 2 Minggu esok. 

 

Selain kapasitas Stadion Manahan yang sudah terlalu penuh untuk menampung suporter tuan rumah, match esok merupakan partai dengan tensi sangat tinggi mengingat kedua klub sama-sama berupaya mengamankan tiket menuju babak selanjutnya. Selain itu akan sangat rawan terjadi gesekan jika kita memaksakan hadir di Manahan, mengingat masih banyak pihak yang tidak menginginkan terjalinnya kembali #penakseduluran. Sanksi-sanksi lanjutan dari sang pemegang palu juga menjadi bayang-bayang kedua klub apabila pertandingan dihadiri kedua suporter yang seringkali menjadi langganan terhukum dan pihak yang dipersalahkan. Ditambah lagi dampak sosial lainnya yang nanti akan timbul jika hasil pertandingan  tidak sesuai perkiraan kita bersama, akan banyak pihak yang dirugikan terutama yang tidak megetahui permasalahannya. Contoh kasus seperti; banyak kendaraan plat AB di Solo, dan sebaliknya plat AD yang di Sleman juga tidak sedikit, kita tidak ingin  mereka menjadi sasaran kekecewaan jika nanti terjadi. 

 

Ketika jarak hanya sekejap mata, namun kita harus rela tak bisa bersua. Disaat kebanggaan butuh kehadiran kita, di waktu suara kita seharusnya mengiringi perjuangan mereka di medan laga, dengan sikap ksatria dan kebesaran hati melepas para punggawa berjuang meraih poin tiga di Surakarta. Sebuah langkah yang harus kita jalani bersama dari sepenggal kisah perjalanan mengawal sang punggawa, dimana kita terpenjara area yang membuat kita bercerai sementara dari Super Elja, sekali lagi pengorbanan besar harus kita tebus untuk membayarnya. 

 

Untuk sementara waktu mungkin hanya doa yang menjadi dukungan paling logis guna tetap menjalani takdir yang MAHA KUASA mengawal dan mendukung Super Elang Jawa. Dimana jarak beberapa kilo meter terbentur sebuah tembok surat sakti, namun kembali lagi kita akan menegaskan bahwa kita siap menghormati. Kebesaran hati dan pemahaman diri sangat wajib kita lakukan KEMBALI! Kita sudah pernah melewati proses ini dan mampu menjalani. Maka dengan lantang kita akan suarakan; APAPUN KAN KU LAKUKAN UNTUK PSS SLEMAN!

 

Di luar surat tertulis yang telah ditetapkan, ada hal lebih besar yang harus kita perjuangkan dan akan selalu kita perjuangkan. Sebuah tagar dari mimpi yang bertahun-tahun kita impikan dan upayakan bersama, yaitu #penakseduluran. Tindakan nyata yang melebihi suara dan ketikan jari di dunia maya yang sudah saatnya terwujudkan. Dalam sepakbola kemenangan adalah kewajiban, namun persaudaraan dan perdamaian tak boleh kita kesampingkan. Sebuah rivalitas sehat wajib kita kedepankan, bukan persaingan jahat yang mengesampingkan akal sehat dan jauh dari kata terhormat. Kecewa itu pasti, namun menghormati sebuah kebijakan itu nilai dari kehormatan dan harga diri. 

 

Sedikit mengutip dari artikel di panditfootball hasil tulisan Dex Glennisa bahwa sepakbola sebenarnya mengajarkan jika kita semua saling membutuhkan, dimana pun kubu kita berada. Jean-Paul Sartre, filsuf asal Prancis, pernah berkata: “Di dalam sepakbola, segalanya menjadi lebih rumit dengan hadirnya kesebelasan lawan.” Sartre menggunakan istilah “kesebelasan lawan” (opposite team), bukan “kesebelasan musuh” (the enemy team). Tentunya “musuh” dan “lawan” adalah dua hal yang sangat berbeda. 

 

Di sini untuk menjelaskan lebih gamblang, akan ada sedikit analogi yang kami ambil dari tulisan Empat Hal Keliru dari Suporter Sepakbola (Indonesia). Analogi ini kami gubah hanya untuk kepentingan penjelasan yang dirasa cukup mewakili persoalan ini, berikut kutipan sekaligus penggantian sample klub sebagai objek:

 

"Sebagai lawan, satu sama lain tidak boleh dan tidak bisa saling memusnahkan. Sepakbola hanya bisa dimainkan jika ada dua kesebelasan yang bertanding. “Lawan” adalah prasyarat mutlak untuk memainkan sepakbola. Tanpa “lawan”, tidak akan ada pertandingan.

 

Jika syarat itu dimusnahkan, jika lawan dimusnahkan, maka tak akan pernah ada pertandingan, tak akan pernah ada sepakbola. Hal ini yang seharusnya tertanam di alam bawah sadar suporter sepakbola sejak anak-anak.

 

Tanpa adanya PERSIS sebagai “lawan”, bisa jadi PSS tidak akan pernah ada. Atau kalaupun ada, makna mendukung PERSIS tidak akan sempurna tanpa adanya PSS sebagai lawan. Kemudian, justru dengan berkelompok itu yang menunjukkan jika kita saling membutuhkan. Begitu juga dengan lawan. Lawan bukanlah musuh yang boleh atau bisa dimusnahkan. Lawan adalah syarat sah untuk terjadinya pertandingan sepakbola, sehingga kita semua membutuhkan lawan. Jika setiap suporter sudah bisa memahami  hal di atas dan ditanamkan sedari dini kepada generasi selanjutnya, maka kita semua bisa berdamai untuk kemudian merasakan dan menyaksikan kemuliaan sepakbola dengan berjamaah"

 

Sebagai lawan, satu sama lain tidak boleh dan tidak bisa saling memusnahkan. Sepakbola hanya bisa dimainkan jika ada dua kesebelasan yang bertanding. “Lawan” adalah prasyarat mutlak untuk memainkan sepakbola. Tanpa “lawan”, tidak akan ada pertandingan.

 

Kembali lagi ke benang merah, apapun itu #penakseduluran lebih baik, mari saling menjaga kerukunan yang sudah mulai terbina. Kita mulai movement ini dari kita sendiri, alasan panpel PERSIS Solo yang merujuk dari Surat Kapolda Jateng dengan tidak memberikan kuota bukan berarti membenci Suporter Sleman, namun ada niat mulia karena ingin menjaga #penakseduluran yang sudah terjalin ini. 

 

Biarkan pertandingan berjalan lancar dan aman tanpa kehadiran kita, jangan sampai ada hukuman tanpa penonton lagi yang dijatuhkan bagi kedua klub. Akhir kata marilah kita hormati tuan rumah, jaga tagar #penakseduluran, turunkan ego demi PSS, yakin bawa pulang 3 poin. Doa-doa kami bersamamu Man. Menang itu wajib, paseduluran ora keno ditinggalke
Salam.

Related Posts

Mau Dibawa Ke Mana PSS Sleman?

Minggu, 12 November 2017

Pasca kegagalan PSS Sleman menembus Liga 1, Brigata Curva Sud segara bergerak melakukan evaluasi terhadap kinerja tim PSS Sleman dengan cara menemui jajaran pemegang saham, CEO PT. Putra Sleman Sembada (PT. PSS) dan manajemen tim dalam kurun waktu yang berbeda dimulai pada tanggal 12 Oktober 2017. Dari beberapa pertemuan tersebut, Brigata Curva Sud dapat menyimpulkan sebagai berikut:

Tuhan Beserta Kita!

Selasa, 10 Oktober 2017

Sudahilah sedihmu, kawan! Mari kita lupakan bagaimana sakitnya dikalahkan oleh wasit pekan lalu di Cilegon. Kita wajib bangga kepada punggawa Elang Jawa yang telah mati-matian berjuang di Cilegon. Namun, PSS belum digariskan menang dalam pertandingan minggu lalu. Laga pamungkas telah menanti, hari ini akan menjamu tim wetan ndeso, Persis Solo. Meski sangat tipis peluang PSS untuk lolos ke 8 besar Liga 2 Indonesia, tetapi keyakinan ini masih ada. Masih ada 2 x 45 menit yang wajib kita perjuangkan, menjadi pemain ke-12 bagi 11 pemain yang berjuang di lapangan.