Mau Dibawa Ke Mana PSS Sleman?

Minggu, 12 November 2017

Pasca kegagalan PSS Sleman menembus Liga 1, Brigata Curva Sud segara bergerak melakukan evaluasi terhadap kinerja tim PSS Sleman dengan cara menemui jajaran pemegang saham, CEO PT. Putra Sleman Sembada (PT. PSS) dan manajemen tim dalam kurun waktu yang berbeda dimulai pada tanggal 12 Oktober 2017. Dari beberapa pertemuan tersebut, Brigata Curva Sud dapat menyimpulkan sebagai berikut:

  • Kinerja Manajemen PSS yang tidak maksimal.
  • Adanya jurang pemisah antara PT PSS dengan manajemen tim yang menyebabkan kondisi di lapangan (kompetisi) tidak maksimal.
  • Ketidaksiapan tim pelatih dalam mempersiapkan komposisi tim, terkhusus babak 16 besar.
  • Kegagalan manajemen dan tim pelatih membangun tim yang solid baik di dalam maupun di luar lapangan.
  • Tidak profesionalnya PT PSS dalam pengadaan sarana dan pra sarana penunjang ( mess, kebutuhan pemain dan fasilitas lainnya).

Berdasarkan poin-poin di atas, kami menemukan fakta bahwa ternyata PT. PSS beserta jajaran pemegang saham di dalamnya tidak memiliki kemauan dan keseriusan untuk berprestasi dengan membawa PSS Sleman ke Liga 1. Kami berkeyakinan dengan tingginya antusias dan animo pecinta PSS dipastikan berdampak positif terhadap besarnya pendapatan PSS, dengan rata-rata pendapatan kotor Rp 700 juta per pertandingan. Selain itu, masih ditambah pemasukan dari pihak sponsor yang seharusnya dapat menjadi modal besar mencapai target lolos ke Liga 1.

Setelah kegagalan demi kegagalan, kami tidak ingin euforia dan antusiasme pecinta PSS Sleman hanya menjadi SAPI PERAH setiap tahunnya. Setelah kami mengamati dan melakukan investigasi dapat disimpulkan bahwa, sepeninggal Alm. Suparjiono saat ini PT PSS dan manajemen PSS Sleman tidak memiliki sosok yang mempunyai integritas, dedikasi serta kapasitas yang setara dengan beliau. Menurut kami PT PSS saat ini dipegang oleh orang-orang yang tidak mengerti sepakbola dan tata kelola namun hanya berorientasi bisnis. Oleh karenanya, kami mempertimbangkan salah satu aspek yang paling mendesak yaitu dibutuhkannya SDM yang mengerti dan paham tentang tata kelola sepakbola, namun juga siap dan berani berkomitmen membawa PSS Sleman ke Liga 1.

Dari rangkaian uraian di atas dan langkah-langkah yang sudah dilakukan, kami menemukan sosok yang menurut pandangan mempunyai kriteria yang dibutuhkan. Hal ini juga didasari dengan track record beliau yang mampu membawa salah satu klub di level tertinggi Liga Indonesia, menjuarai Liga sebanyak dua kali, satu kali juara Copa Indonesia serta mengikuti Liga Champion Asia. Sosok tersebut adalah Dr. H.M. Baryadi, M.M yang merupakan putra daerah yang ingin mendedikasikan serta berbalas budi pada tanah kelahirannya, yaitu Kabupaten Sleman.

Brigata Curva Sud membawa nama beliau ke dalam Forum Perwakilan Sezione dan wilayah pada tanggal 10 November 2017 bertempat di Pendopo Rumah Bupati Kabupaten Sleman. Dari Forum tersebut kami menyepakati untuk menunjuk Dr. H.M. Baryadi, M.M sebagai manajer PSS Sleman 2018. Penunjukan ini juga didasari dengan tuntutan untuk membenahi tata kelola manajerial, bekerja secara profesional dan membawa PSS Sleman lolos ke Liga 1 musim depan. Oleh karenanya, kami meminta secara tegas PT PSS untuk memberikan mandat sepenuhnya kepada beliau agar dapat bekerja secara maksimal dan profesional.

Di sisi lain, kami sebagai suporter berkomitmen untuk mendukung dan mengawal sepenuhnya rencana serta kebijakan dalam menjalankan amanah sebagai manajer PSS Sleman dengan segala konsekuensinya. Maka dari itu kami meminta PT PSS untuk serius mewujudkan tuntutan ini, apabila tuntutan ini tidak dipenuhi, maka semakin meyakinkan kami bahwa PT PSS sama sekali tidak memiliki kemauan dan keseriusan untuk membawa PSS Sleman berprestasi.

Oleh karena itu, dapat dipastikan akan ada pergerakan lebih lanjut yang lebih masif dari kami suporter sebagai aset terbesar klub PSS Sleman.

Sekian dan terima kasih.

PSS Sleman, Ale! BCS, Ora Muntir!

 

Sleman, 12 November 2017

Oleh: Media Officer BCSXPSS1976

Related Posts

Melatih Senjata Utama; Suara

Sabtu, 25 Agustus 2018

Bersorak saat terjadi gol maupun chants yang lantang selama pertandingan berlangsung seperti menjadi sebuah ‘keharusan’ bagi orang yang menganggap dirinya ultras. Karena di sinilah passion dan kebanggaan seorang ultras dinilai. Ya benar, dengan suara lantang sebuah doa dan pesan bisa terdengar dan memompa semangat para pahlawan PSS Sleman. Lalu apakah kualitas suara kalian sudah bisa dikatakan lantang? Atau selama ini cara menggunakan senjata utama kurang tepat? Tidak ada salahnya kita belajar bersama demi kemajuan kualitas suara kita.