Sikap BCS Atas Mundurnya Bapak Baryadi

Jum'at, 05 Januari 2018

Menyikapi berita atas mundurnya Bapak Baryadi, Brigata Curva Sud memberikan sikap sebagai berikut:

  1. Bapak Baryadi sudah menyatakan pengunduran dirinya kepada BCS, beliau menjelaskan bahwa ia tidak dapat melanjutkan amanah sebagai manajer PSS Sleman, serta memohon maaf kepada suporter dan masyarakat sepakbola Sleman.
  2. BCS menyayangkan pengunduran diri Bapak Baryadi yang baru saja menjalankan tugasnya sebagai manajer. Terkait keputusan tersebut, perwakilan BCS telah menjalin komunikasi dengan beliau, namun demikian langkah pengunduran dirinya tersebut sudah menjadi keputusan bulat dari beliau dan BCS sangat menghormatinya.
  3. Apapun alasan yang disampaikan Bapak Baryadi atas latar belakang pengunduran dirinya, merupakan ranah manajerial antara beliau dan PT. PSS yang tidak akan kami campuri.
  4. BCS masih meyakini kedua asisten manajer; Bapak Dewanto dan Bapak Sismantoro yang kami usung sejak awal bersama Bapak Baryadi yang disaksikan Bupati Sleman akan terus melanjutkan amanah dan berkomitmen membawa PSS Sleman ke Liga 1.
  5. Atas pengunduran diri Bapak Baryadi, tuntutan BCS masih sama; menuntut PT PSS dan manajemen membawa PSS Sleman ke Liga 1 musim 2018.
  6. Dengan mundurnya Bapak Baryadi, peran BCS sebagai kontrol bagi klub mari kita laksanakan bersama-sama, mengingat persiapan klub sudah mulai berjalan. Oleh karena itu, BCS mendesak semua suporter dan masyarakat sepakbola Sleman bisa menjaga kondusifitas klub dan dinamika suporter. Sampai dengan saat ini persiapan tim PSS Sleman sudah mulai berjalan, marilah kita kawal bersama prosesnya sampai PSS Sleman promosi Liga 1 tahun ini. 
  7. Kami mengucapkan terima kasih atas kesediaan Bapak Baryadi menyanggupi penunjukkan menjadi manager pasca gagalnya PSS Sleman musim 2017 hingga akhirnya mengundurkan diri.
  8. Kami berharap semua elemen suporter dan masyarakat sepakbola Sleman dapat menghargai semua keputusan yang ada di atas. 

 

Related Posts

Melatih Senjata Utama; Suara

Sabtu, 25 Agustus 2018

Bersorak saat terjadi gol maupun chants yang lantang selama pertandingan berlangsung seperti menjadi sebuah ‘keharusan’ bagi orang yang menganggap dirinya ultras. Karena di sinilah passion dan kebanggaan seorang ultras dinilai. Ya benar, dengan suara lantang sebuah doa dan pesan bisa terdengar dan memompa semangat para pahlawan PSS Sleman. Lalu apakah kualitas suara kalian sudah bisa dikatakan lantang? Atau selama ini cara menggunakan senjata utama kurang tepat? Tidak ada salahnya kita belajar bersama demi kemajuan kualitas suara kita.